Selasa, 22 Januari 2019
Sejarah Pusat Kajian Hadits di Masa Para Sahabat
Perluasan ini berdampak pada semakin banyaknya orang yang masuk Islam dan haus akan pengetahuan dan hukum-hukumnya. Hal ini mendorong para pemimpin mengutus sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ untuk mengajari mereka hukum-hukum agama. Para sahabat pun berangkat ke berbagai wilayah, hingga di antara mereka ada yang menetap di sana hingga akhir hayat.
Dar al-Hadits (Pusat Kajian Hadits) di Madinah
Madinah adalah tempat tujuan hijrah Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Di tempat ini beliau menyampaikan banyak hadits. Karena mayoritas syariat Islam diturunkan di sana. Para sahabat Muhajirin merasa nyaman tinggal di Madinah. Dan mereka enggan kembali ke Mekah.
Sepeninggal Rasulullah ﷺ, Madinah tetap menjadi ibu kota umat Islam dan pusat kekhalifahan. Para sahabat senior tetap tinggal di kota ini. Mereka tak pernah meninggalkan Madinah kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Seperti urusan kepemerintahan, ekonomi, militer, ataupun pendidikan.
Para sahabat yang masyhur dan mumpuni di bidang hadits dan fikih di Madinah cukup banyak. Di antaranya adalah Abu Bakar, Umar, Ali (sebelum ia pindah ke Kufah), Abu Hurairah, Ummul Mukmini Aisyah, Abdullah bin Umar, Abu Said al-Khudri, Zaid bin Tsabit, dll.
Zaid bin Tsabit terkenal dengan pandangan yang mendalam terhadap Alquran dan sunnah. Bahkan, Umar menyisakan beberapa perkara untuk dikonsultasikan kepada Zaid. Yaitu pada saat Umar menemui kendala pada beberapa ketetapan hukum. Zaid pun menjadi salah seorang yang utama dalam memberikan putusan hukum dan fatwa. Dia juga ahli di bidang qira-ah dan fara-idh di zaman Umar, Utsman, Ali, hingga akhirnya wafat pada tahun 45 H, di masa kekhalifahan Muawiyah.
Melalui para sahabat yang tinggal di Madinah ini, lahir tokoh-tokoh tabi’in seperti: Said al-Musayyab, Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, Salim bin Abdullah bin Umar, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Nafi’ maula Ibnu Umar, Abban bin Utsman bin Affan, dan masih banyak lagi para penghafal hadits yang senantiasa menjadi sumber rujukan sunnah dan fatwa-fatwa yang dibutuhkan.
Dar al-Hadits (Pusat Kajian Hadits) di Mekah
Ketika Nabi ﷺ berhasil menundukkan Kota Mekah (Fathu Mekah), beliau menugaskan Muadz bin Jabal untuk tinggal di sana guna mengajarkan hukum-hukum Islam kepada penduduknya. Menjelaskan halal dan haram. Memberikan pemahaman ilmu agama dan Alquran pada mereka. Muadz adalah salah seorang pemuda Anshar yang memiliki keutamaan, kesantunan, keilmuan, dan kelapangan. Ia selalu turut serta dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah ﷺ. Abdullah bin Abbas, Umar bin al-Khattab, dan Ibnu Umar, banyak meriwayatkan darinya.
Setelah Muadz, estafet dakwah di Mekah dilanjutkan oleh Abdullah bin Abbas yang telah kembali dari Bashrah. Sepupu Nabi ﷺ ini menjadi rujukan utama di Mekah. Ia adalah gudang ilmu dan hafizh hadits. al-Hakim menyebutkan dalam Ma’rifatu Ulumi al-Hadits, selain Ibnu Abbas, sahabat lainnya yang tinggal di Mekah adalah Abdullah bin Saib al-Makhzumi. Ia adalah ahli qiraah bagi penduduk Mekah. Kemudian ada Itab bin Usaid, Khalid bin Usaid, al-Hakam bin Abi al-Ash, Utsman bin Thalhah, dll.
Dari majelis para sahabat ini muncullah tokoh-tokoh utama tabi’in seperti: Mujahid bin Jabar, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Atha’ bin Rabah, dll.
Dar al-Hadits di Kufah
Kufah menjadi markas berkumpulnya tentara-tentara Islam. Karena itulah, para sahabat banyak yang pergi ke sana saat terjadi berbagai perluasan wilayah Islam. Banyak juga di antara mereka yang dimakamkan di sana. Di antarnya Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Khabbab bin al-Art, Salman al-Farisi, Hudzaifah bin al-Yaman, Nu’man bin Basyir, Abu Thufail, Abu Juhaifah, dll (Ma’rifatu Ulumi al-Hadits, Hal: 191).
Yang menjadi tokoh utama keilmuan di Kufah adalah Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Ia seorang ulama di kalangan sahabat dan cukup lama tinggal di sana. Melalui bimbingannya muncullah orang-orang hebat semisal Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani, Ubaidah bin Amr as-Salmani. Menurut asy-Sya’bi, Ubaidah dan Syuraih memiliki level yang sama. Kemudian ada Aswad bin Yazid an-Nakha-i dan Syuraih bin al-Harits al-Kindi –yang ditunjuk Umar sebagai hakim di Kufah-. Ada pula Ibrahim bin Yazid an-Nakha-i yang dikenal sebagai Faqih al-Iraq. Selanjutnya Said bin Jubair, Amir bin Syarahil asy-Sya’bi. Asy-Sya’bi merupakan seorang yang sangat mendalam ilmunya di kalangan para tabi’in, para imam, dan huffazh (Ma’rifatu Ulumi al-Hadits, Hal: 1-20)
Dar al-Hadits di Bashrah
Yang menjadi tokoh utama di sini adalah Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Abdullah bin Abbas juga pernah tinggal di kota ini, karena menjabat gubernur di Bashrah. Selain dua orang sahabat senior ini, ada juga sahabat-sahabat yang lain. Seperti: Utbah bin Ghazwan, Imran bin Hushain, Abu Barzah al-Aslami, Ma’qil bin Yasar, Abu Bakrah, Abdurrahman bin Samurah, Abdullah bin asy-Syakhir, Jariyah bin Qudamah, dll. (Ma’rifatu Ulumi al-Hadits, Hal: 191).
Di antara para tabi’in yang tinggal di Bashrah adalah Abu al-Aliyah Rafi’ bin Mahran ar-Rayahi. Hasan al-Bashri, yang berhasil berjumpa dengan 500 orang sahabat. Kemudian Muhammad bin Sirin, Abu asy-Sya’tsa’. Jabir bin Zaid, sahabat dari Abdullah bin Abbas. Qatadah bin Di’amah ad-Dawsi, Muthraf bin Abdullah bin asy-Syakhir, Abu Burdah bin Abu Musa, dan masih banyak nama-nama lainnya.
Dar al-Hadits di Syam
Ketika kaum muslimin berhasil memenangkan Syam, banyak sekali penduduknya yang memeluk Islam. Karena itulah, khalifah memberikan perhatian besar terhadap wilayah ini dengan mengirimkan sahabat-sahabat Rasulullah untuk membimbing mereka. Di antaranya adalah Muadz bin Jabal. Rasulullah ﷺ pernah mempercayakannya membina masyarakat Yaman dan Mekah. Dan kemudian Umar bin al-Khattab mengamanahinya membina penduduk Syam.
Ibnu Saad meriwayatkan dalam ath-Thabaqat, dari Abu Muslim al-Khulani, ia berkata, “Aku memasuki Masjid Himsha, ternyata di dalamnya terdapat sekitar 30 orang sahabat Rasul. Di antara mereka ada seorang pemuda yang matanya bercelak, gigi serinya putih. Dia diam tak banyak bicara. Jika orang-orang menemui kesulita, mereka datang bertanya padanya. Aku berkata, kepada salah seorang yang sedang duduk, ‘siapa orang itu’? Dia menjawab, ‘Dia adalah Muadz bin Jabal’.”
Sahabat lainnya yang juga dikenal memberikan pengajaran di wilayah ini adalah Ubadah bin Shamit. Ia sosok yang unggul dalam bidang Alquran dan sangat fakih. Kuat dalam membela agama Allah. Dan tidak peduli apa kata orang tetangnya dalam membela kebenaran itu.
Selain itu ada juga Abu Darda’ al-Anshari. Seorang sahabat yang fakih dan hafal banyak hadits. Ia diutus ke Syam bersama Muadz bin Jabal setelah Amirul Mukminin Umar menerima surat permintaan dari Yazid bin Muawiyah. “Penduduk Syam membutuhkan orang-orang yang dapat mengajarkan Alquran dan memberikan pemahaman yang baik tentang agama”, kata Yazid. Umar pun mengutus Muadz, Ubadah, dan Abu Darda sebagai respon dari permintaan Yazid.
Dan masih banyak sahabat lainnya seperti: Syarahbil bin Hasanah, al-Fadhl bin al-Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Malik al-Asy’ari, dll.
Di tangan mereka muncul para tabi’in masyhur seperti: Abu Idris al-Khulani, Qubaishah bin Dzubaib, Makhul bin Abu Muslim, Raja’ bin Haywah al-Kindi, dll.
Dar al-Hadits di Mesir
Pada tahun 20 H, Mesir menjadi wilayah kaum muslimin. Banyak penduduknya yang tertarik dengan agama fitrah ini. Di masa Muawiyah bin Abu Sufyan, ia menugaskan salah seorang sahabat yang utama Amr bin al-Ash untuk Mesir. Amr membawa serta putranya, seorang ahli ilmu di kalangan sahabat Rasulullah ﷺ, Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma.
Abdullah bin Amr adalah seorang pemuda yang giat beribadah. Ia juga termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Bahkan, ia memiliki keunggulan di bidang tulis-menulis. Dengan itu ia mencatat hadits-hadits yang disabdakan Rasulullah ﷺ. Setelah ayahnya wafat, Abdullah tetap menetap di Mesir.
Sahabat lainnya yang menyebarkan ilmu di Mesir adalah Uqbah bin Amir al-Juhani, Kharijah bin Hudzafah, Abdullah bin Saad bin Abi Sarah, Mahmiyah bin Juzu’, Abdullah bin al-Harits bin Juzu’, Abu Bashrah al-Ghifari, Abu Saad al-Khair, Muadz bin Anas-al-Juhani, dll. Muhammad bin Rabi’ al-Jaizi menyatakan lebih dari 140 orang sahabat yang tinggal di Mesir.
Dari pengajaran mereka, muncullah para tabi’in. Di antaranya Abu al-Khair Murtsad bin Abdullah al-Yazini, seorang mufti Mesir. Ia meriwayatkan banyak hadits dari Abu Ayyub al-Anshari. Kemudian Abu Bashrah al-Ghifari, dan Uqbah bin Amir al-Juhani, Yazid bin Abi Hubaib, dll.
Inilah gambaran sekilas mengenai perguruan-perguruan yang berperan besar dalam pengajaran ilmu-lmu keislaman dan penyebar hadits di berbagai wilayah perluasan Islam. Masa ini juga memberikan gambaran nyata pada kita, bagaimana para sahabat dan tabi’in dalam menyebarkan dan meriwayatkan hadits-hadits dari Nabi ﷺ.
Kamis, 17 Januari 2019
Sejarah Riba Zaman Lampau
Dalam syariat islam, tidak dikenal dengan sistem 'Bank'. Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan tempo dulu di daratan Eropa. Kemudian usaha perbankan ini berkembang ke Asia Barat oleh para pedagang.
.
Dalam perjalanan sejarah kerajaan pada masa dahulu penukaran uangnya dilakukan antar kerajaan yang satu dnegan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing.
Sistem Kredit
Lambat laun, orang-orang semakin membutuhkan pinjaman dalam bentuk jatuh tempo yang disebut sebagai kredit atau cicil. perkembangan perkreditan ini dilanjutkan pada zaman Romawi kuno. Selain kredit usaha mikro, juga dikembangkannya suatu sistem kredit untuk kepemilikan rumah. Namun, seiring dengan jatuhnya Roma di tahun 476 M, perbankan ikut mengalami kemunduran di Eropa.
.
Akhirnya sistem kredit mulai bersinar kembali sejak semakin pesatnya kegiatan perdagangan di Eropa, terutama di Itali sekitar abad ke-13 hingga kini. .
_____
.
INTI dari sistem kerja imperialisme kuno dan modern sesungguhnya terletak pada sistem perbankan ribawi. Dalam dunia ekonomi, Karl Marx dianggap sebagai orang yang pertama kali “menemukan” hal ini dalam teori nilai lebihnya (surplus-value).
.
Namun jika kita melihat lebih jauh, sistem riba sesungguhnya diciptakan oleh Ksatria Kuil (Knights Templar) dengan lembaga simpan-pinjam pertama di dunia yang disebut “Usury”. Ini adalah istilah bahasa Inggris untuk menyebut “Riba”.
Selasa, 16 Oktober 2018
Kisah Pemuda Soleh Mush'ab Bin Umair
Minggu, 25 Maret 2018
Sejarah Jabal Thariq - Dunyakhirah
Minggu, 11 Februari 2018
Sejarah Kongres Perempuan • Umat Muhammadiyah
Menelisik Sejarah Dibalik Hari Ibu Nasional dan Kongres Perempuan Pertama di Yogyakarta
Memperingati Hari Ibu Nasional bagi sebagian orang hanya terpacu pada Surat Keputusan (SK) Presiden No 136 tahun 1959. Namun, di balik dari SK tersebut terdapat sejarah lain yang melandasi tercetusnya Hari Ibu Nasional pada tanggal 22 Desember, yaitu pada Kongres Perempuan I di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember Tahun 1928.
Disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, salah satu pencetus adanya Kongres Perempuan I di Yogyakarta yaitu ‘Aisyiyah, bersama organisasi perempuan Indonesia lainnya. Dalam kongres tersebut 'Aisyiyah diwakili Siti Munji'ah dan Siti Hayinah. “Sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah adalah salah satu inisiator dari Kongres perempuan pertama di Yogyakarta tersebut,” ucap Noor, Jum'at (22/12). Selain itu, pada tanggal 22 Desember 1928 merupakan dimulanya para perempuan melalui rintangan dari kaum kuno yang masih mencintai adat tua. Hal itu ditandai dengan keberhasilan Kongres Perempuan I. “Kaum kuno pada masa itu menyatakan bahwa kaum istri (perempuan) tidak perlu berkongres-kongres, cukup di dapur tempatnya, kaum perempuan belum matang dan belum bisa berdamai dalam perkumpulan,” ujar Noor.
Noor juga mengatakan, jika berbicara Hari Ibu tidak terlepas dari betapa besarnya peran kaum perempuan di dalam berjihad pada persoalan-persoalan bangsa Indonesia yang lebih luas. “Karena tujuan dari kongres tersebut yaitu untuk mengambil peran perempuan dalam perjuangan memajukan bangsa Indonesia,” ucap Noor.
Noor juga berpesan agar peringatan Hari Ibu di Indonesia tidak disamakan seperti peringatan Hari Ibu di negara lain, walaupun lanjut Noor, seorang Ibu memilki keluar biasaan yang sama. “Karena perempuan pada dasarnya memiliki tanjung jawab utama dan pertama dalam mengawal generasi yang akan datang,” ucap Noor.
Hari Ibu di Indonesia, tegas Noor, harus diperingati dalam konteks memajukan bangsa Indonesia. “Hari Ibu jangan hanya dijadikan seremoni semata, namun mari kita jadikan sebagai kebangkitan perempuan dalam mengambil peran memajukan dan mensejahterakan bangsa Indonesia,” tegas Noor.
Sejarah Kongres Perempuan • Umat Muhammadiyah
Kamis, 25 Januari 2018
Kisah Kematian Tragis Utsman Bin Affan
Utsman yakin bahwa fitnah akan redam dengan wafatnya beliau, sebagaimana kabar yang Rasulullah sabdakan. Beliau juga merasa waktunya telah dekat di saat beliau berumur 83 tahun, diperkuat dengan mimpinya bertemu Rasulullah n di hari pengepungan. Nasihat Abdullah bin Salam kepada beliau. Abdullah berkata:
Dia tahu bahwa tidak ada satu pemberontak pun yang berani terhadap istri Rasulullah S.A.W. Ka'ab ibn Malik R.A. meriwayatkan:
Dan ketika para pemberontak mendengar ancaman dari istri Rasulullah S.A.W., mereka membolehkan jenazah Ustman dikuburkan oleh empat orang: Hasan R.A., Hussain R.A., Ali R.A., dan Muhammad ibn Talha R.A. Dan ketika mereka membawa jenazah Ustman untuk dikuburkan, para pemberontak mulai melempari batu ke jenazah Ustman R.A.
Senin, 23 Oktober 2017
Daftar Kejahatan Syiah Dalam Sejarah Islam
DAFTAR KEJAHATAN SYIAH SEPANJANG SEJARAH ISLAM
.
.
Dipublish per-Tanggal : 25 Agustus 2013
.
23 H (Baba Aladdin) Abu lu'lu membunuh Khalifah Umar bin Khothob radhiyallahu 'anhu
.
34 H (Abdullah Ibn Saba) membunuh Khalifah Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu
.
61 H Syiah Rafidah membunuh Imam Husain radhiyallahu 'anhudi 'Asyura
.
100 H Syiah Rafidah membunuh 500,000 Muslim di Khorasan
.
280 H Syiah Zaidiah membunuh 50,000 Muslim di Yaman
.
317 H Syiah Qurmutiah menyerang Masjid Haram Mekah, mencuri dan merusak Hajarul Aswad dengan 8 cukilan serta membunuh 400,000 jamaah haji
.
483 H Syiah Hashasheen (assasens) membunuh Imad al deen Zinki dan 200,000 Muslim di Mesir
.
1099 M Syiah Fatimiah menyerang Palestina dan membantu penyerahan AlQuds ke pihak Nasrani
.
656 H Syiah Alawiah bersama Hulagu menyerag Baghdad membunuh lebih 800,000 orang di Iraq dan lebih 2 juta orang di Syria, Lebanon, Jordan dan Palestina
.
907 H Syiah Safawiah membunuh 1 juta Sunni di Iran
.
1149 H Syiah Qadianiah mengubah Kiblat ke Mashahd di Iran.
.
1289 H Syiah Isna 'Ashariah mencetak Quran dari Mirza Tubrusi di Iran Qum.
.
1366 H Syiah Isna 'Ashariah berfatwa ziarah ke Karbala adalah 7x lebih baik daripada Mekkah
.
1406 H mengebom bagian dalam Masjidil Haram untuk memberi pesan anti Amerika (propaganda)
.
1407 H Syiah Irak membunuh 402 warga Saudi selama haji, 85 di antaranya adalah polisi
.
1408 H Fatwa melalui the Islamic union di Makkah (Khomaini adalah kaum Kuffar)
.
1409 H Syiah Rafidah mengebom Masjidil Haram dan membunuh 1 orang berwarga negara Pakistan
.
1841 M Syiah Druz menyerang Kekaisaran Turki
.
1972 M Syiah Druz bersama Israel menyerang Palestina
.
1983 M Syiah Druz bersama Israel menyerang Lebanon
.
1982 M Syiah 'Alawiah membunuh 40,000 sunni di Homs Syria
.
2011 M Syiah 'Alawiah + Isna 'Ashariah membunuh 200,000 Sunni di Syria
.
2013 M - Mesir?
.
Seterusnya, Malaysia, Indonesia?
Dimana ada syiah di suatu negara pasti kacau.
#dakwahtauhid #dakwah #tauhid #syiah #syaihbukanislam #syiahmusuhislam #syiahsesat #syiahsesatdanmenyesatkan
